Hari Rabu 30 Juni 2010, alumni AR ITB kembali melakukan acara kumpul alumni di Rumah Alumni ITB. Undangan sudah terlanjur disebarluaskan dengan 'gimmick' nonton bola bareng, tetapi ternyata malam itu tidak ada pertandingan bola. Mohon dimaklumi, karena kami yang punya ide acara tidak satupun penggemar bola. Namun, arsitek tidak pernah kehabisan akal. Untuk mengisi acara, maka kami meminta kepada Dik Mukkodas (AR95) dan Mbak Toet (AR74) untuk menceritakan pengalamannya.
Dalam undangan disebutkan bahwa acara dimulai pada pukul 19.00, tetapi para alumni baru mulai berdatangan sekitar pukul 19.30 dan mulai ramai pada pukul 20.00. Sambil menunggu rekan-rekan lain menyusul, menu makanan langsung dibuka, dan langsung menyantap hidangan yang disajikan es cendol, es jeruk kelapa muda, martabak, lontong sayur (apa lagi sih... gue lupa).
Acara pertama dimulai dengan presentasi yang dilakukan oleh Mukkodas (AR95), mengenai Tapak Bumi - Eco Village. Ia menceritakan usahanya yang pantang menyerah untuk menjadikan suatu kawasan di teluk Banten yang tadinya tidak layak kunjung, menjadi sebuah kawasan yang nantinya bisa dikunjungi, lengkap dengan fasilitas pendukungnya. Kawasan ini nantinya diharapkan bisa mejadikan tempat pembelajaran untuk menghargai lingkungan, sekaligus memberikan manfat kepada masyarakat sekitarnya. Idealisme anak muda yang patut dicontoh dan kita dukung bersama. Satu hal paling mudah yang saya ingat untuk membantu usaha ini adalah, Mukkodas mengharapkan adanya bantuan buku-buku (buku apa saja) untuk mengisi perpustakaan kecil di sana, yang akan sangat bermanfaat untuk anak-anak di sekitar kawasan tersebut.
Lalu acara berikutnya giliran Mbak Toet (AR74) yang menceritakan pengalamannya ketika mendaki Himalaya. Menjelang Hari Kartini 21 April 2010, Tim Kartini Petualang yang terdiri dari enam perempuan Indonesia yang berusia diatas 50 tahun, mencoba menaklukkan puncak Himalaya. Mereka adalah Nungky Irma Nurmala Pratikto (istri Ryodian Pratikto - Alumni AR ITB 79),Yta Gultom, Sri Bimastuti Abimanyu (AR74), Endang Nugraheni, Mita Novitawati (AR-77) Cecilia Enny Yashita, dan Tatty Djachrab. Para Kartini Petualang ini, pada tanggal 8 April 2010 telah meninggalkan Indonesia menuju Kathmandu. Adapun 2 (dua) puncak yang dituju oleh mereka adalah puncak Kalla Pattar (5.550 meter dari permukaan laut - mdpl) dan puncak Imja Tse (6.189 mdpl). Pendakian ini dilakukan untuk memperingati Hari Kartini 2010 dan juga untuk membawa misi ”Indonesia against global warming”
Acara berikutnya sedikit serius, membahas tentang Rumah Alumni ITB dan IA AR ITB. Rully Harianto (AR84) sebagai Ketua Komite Rumah Alumni ITB menceritakan tentang latar belakang dibangunnya Rumah Alumni ITB ini. Sesuai dengan visi Ketua IA ITB Jakarta, Hendry Harmen, ketika melakukan kampanye, bahwa Rumah Alumni ITB ini dibuat untuk tempat para alumni berkumpul, berangkat dan berjaya. Rumah Alumni ini bisa dimanfaatkan oleh setiap alumni ITB. Tentu saja karena dalam pengelolaan dan pemeliharaannya membutuhkan biaya, maka akan dikenakan aturan sumbangan bagi para alumni yang akan memanfaatkannya. Beberapa masukan telah diberikan oleh para alumni senior seperti yang disampaikan oleh Betti S Alisjahbana (AR79) dan Arya Abieta (AR 75). Apabila ingin memanfaatkan rumah alumni ini bisa menghubungi Anto Sudarto GD 92 - Sekjen IA ITB Jakarta (0813 18263667)
Pada saat pembahasan mengenai IA AR ITB yang dipimpin oleh Hari Sungkari (AR 79) - Ketua IA AR ITB, ada dua hal penting yang telah kita sepakati bersama, yaitu :
a. IA AR ITB akan membuka rekening PEDULI ALUMNI, dimana dana yang masuk pada pos ini, hanya akan dimanfaatkan untuk kepedulian kita kepada sesame alumni AR yang memerlukan bantuan finansial, ataupun untuk tenaga administrasi di kampus AR semasa kita kuliah dulu.
b. IA AR ITB perlu Dana Awal Alumni untuk me-running kegiatannya, dan disepakati bahwa modal awal akan dikumpulkan melalui angkatan masing-masing, melalui koordinator / bendahara angkatannya. Besarannya berapa, diserahkan kepada kekuatan masing-masing angkatan.
Semua dana-dana yang terkumpul akan dilaporkan pemanfatannya oleh Bayu Utomo (AR81) - Bendahara IA AR ITB melalui website www.alumniaritb.net
Ketika sedang dalam pembahasan kedua materi tadi, Hendry Harmen (SI84) - Ketua IA ITB Jakarta juga berkenan hadir, dan kebetulan malam itu Hendry Harmen merayakan ulang tahunnya yang ke 45. Maka acara berikutnya adalah peniupan lilin ulang tahun. Hendry menyerahkan potongan pertama kue ulang tahun kepada salah satu alumni paling senior yang hadir malam itu Khairul Mahadi (AR69), dan potongan kedua kepada Azwar Abubakar (AR72). Tidak lupa Mas Azwar yang malam itu baru sekali ini hadir di kumpul alumni AR menyatakan kegembiraannya. "Dulu, ketika saya masih jadi pejabat, saya ingin sekali berkumpul seperti ini, tapi tidak pernah kesampaian". (red : beliau ini pernah menjadi Wakil Gubernur Aceh dan plt Gubernur Aceh pada saat Tsunami terjadi, sekarang menjadi anggota DPR Komisi I, jadi lebih banyak memiliki banyak waktu luang).
Dari daftar absen, kami mencatat ada 40 orang alumni yang hadir dari AR67 s/d AR 95. Alumni AR ITB adalah kelompok pertama yang memanfaatkan Rumah Alumni ITB untuk berkumpul. Semoga bisa diikuti oleh kelompok lain di ITB (yang mau reuni, yang mau arisan, yang mau membuat sekeratriat acara golf, tennis, dll). Acara resmi berakhir pada pukul 23.00 malam dengan melakukan foto bersama. Namun seperti biasa, beberapa alumni masih belum beranjak dari tempatnya, dan sempat melakukan dansa-dansi dengan beberapa lagu. Pukul 24.00 tepat, ketika ruangan juga sudah mulai kembali rapi, kami meninggalkan Rumah Alumni ITB. Terima kasih saya ucapkan kepada 2 sahabat saya Nusi Hariadi (AR84) dan Dewi H. Gadjahmada (AR84) yang telah membantu mempersiapkan acara ini. Terima kasih kepada rekan-rekan yang hadir pada malam itu, semoga kita bisa kembali bertemu di lain kesempatan.....
Take care, stay health and get away from troubles....!
Foto-foto selengkapnya di Facebook, bisa dilihat di sini :
![]() |
![]() |
| Kumpul AR ITB di Rumah Alumni | AR ITB di Rumah Alumni |
| Courtesy of : Khairul Mahadi | Courtesy of : Rully Harianto |












